Majalah Parenting Edisi Desember 2012

Majalah Parenting Indonesia, Edisi Desember 2012

Majalah Parenting Edisi Desember 2012

Ini cerita tentang anak-anak yang suka bereksplorasi. Bosan dengan mainan lama maka mencari mainan lain yang lebih seru dan menantang.

Anak-anak memang suka bereksplorasi.  Apa saja yang berada didekatnya bisa menjadi sasaran kesukaannya itu. Setiap hari ada saja yang dilakukan utnk  memuaskan imajinasinya. Bagi anak-anak eksplorasi memang seperti menu wajib yang selalu ada di  pagi, siang maupun sore hari.

Anak-anak saya, baik yang Sulung maupun yang Bungsu setali tiga uang. Isi lemari pakaian, tembok,  kulkas, pintu  kamar semua telah menjadi sasaran eksplorasi. Padahal mainan pun sudah dibelikan tapi ampun deh, tidak ada yang tahan lama.

Bukan hanya itu saja, tiap hari rumah seperti kapal pecah. Kertas-kertas berhamburan, mainan terserak, sayuran sisa yang tidak dipakai buat masak juga menghias lantai, tepung yang menempel dimana- mana, dan bedak bayi cepat habis karena sering buat mainan. Kadang ingin sekali melihat rumah rapi nya tahan lama. Weh, ternyata cumi alias cuma mimpi. Kalau tidak ingat akan manfaat eksplorasi di  masa anak-anak, pasti sudah saya larang anak-anak berbuat sesuai imajinasinya.

Meskipun sudah memiliki mainan sendiri, perabot memasak milikku ternyata tak  luput dari sasarannya. Anak-anak sepertinya selalu  memiliki rasa  ingin tahu dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Jika mainan lama sudah tidak menantang dan asyik lagi, mereka akan mencari benda lain untuk mainannya.

Seperti yang dilakukan anak saya yang bungsu, Zahira. Hari itu menjadi hari yang amat mengasyikkan baginya dan bagi Kakaknya. Ide Zahira untuk bereksplorasi dengan tepung juga telah membuatku harus membersihkan lantai berulang-ulang.

Saya memang tidak memiliki asisten. Sehari-hari  pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Zahira selalu disambi. Biasanya saat saya sibuk bekerja, dia sibuk dengan mainannya.

Hari itu saya sedang mencuci baju. Zahira mengambil penggorengan dan suthilnya. Awalnya hanya terdengar suara gosreng-gosreng. Saya  pun membiarkannya. Lalu lama-kelamaan Zahira terlihat mondar-mandir di dapur.

Saya hanya melihat sekilas saja karena masih sibuk dengan cucian. Usai menjemur baju, saya pun masuk ke dalam rumah. Melihat apa yang terjadi di dapur, saya bertanya – tanya, apalagi eksplorasinya kali ini. Ternyata belanjaan yang ditaruh didapur sudah berantakan. Pengorengan penuh dengan tepung sagu dan daun sawi yang baru dibeli pagi tadi.

Ketika saya tanya, kenapa pakai tepung yang mau dibuat pempek dan sayuran yang mau dimasak, ada saja jawabannya.

“Ndak seru Ummi kalau ecak-ecakan,” jawabnya dengan logat Palembang yang artinya tidak  seru kalau main masakannya cuma pura-pura saja.

“Oke,  pakai tepungnya sedikit saja ya!”, pintaku padanya.

Saya masih harus mandi jadi saya biarkan dia asyik dengan mainan barunya. Satu hal yang saya ingatkan padanya untuk hati-hati karena lantainya licin terkena tepung. Ditinggal mandi ternyata dia punya keasyikan baru. Tahu bahwa lantainya licin akibat banyak tepung berceceran dia malah senang.

Dituangnya tepung yang ada di penggorengan tadi ke lantai. Tanpa takut terpeleset dia malah asyik menggoyangkan badan dan kakinya  di lantai yang licin itu, sambil tertawa-tawa. Alangkah seru mainannya kali  ini. Melihat ini saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Saya pun kembali mengerjakan pekerjaan rumah yang belum selesai.

Belum puas bermain tepung di lantai dia kemudian mengambil air dari bak mandi untuk dituang ke dalam penggorengan tadi dan dia ambil  lagi tepung yang tersisa di plastik. Jadilah adonan tepung sagu di penggorengan.

Sesaat kemudian Si Sulung pulang dari sekolah. Melihat adiknya sedang seru bermain maka bergabunglah dia.

“Mba ikut dong!”  pinta Si Sulung

“Boleh, ayo Mba kita bedakin sepedanya!” katanya antusias.

Mendapat partner bermain Zahira tambah semangat. Sepeda mini menjadi sasaran selanjutnya. Diolesinya sepeda itu dengan tepung sagu basah.  Jadilah sepeda itu belepotan tepung.

Keisengan pun muncul dengan mencolek tepung basah dan dioleskan ke wajah adiknya. Tak mau kalah Zahira pun membalas.  Aksi kejar – kejaran pun terjadi. Sambil berteriak dan tertawa mereka larut dalam dunianya.  Dalam hati saya berharap semoga  tetangga tidak terganggu dengan suara anak-anakku. Mereka baru berhenti berkejar-kejaran setelah terbatuk- batuk.

Aksi seru mereka hari itu telah membuat lantai rumah penuh dengan adonan tepung. Aksi bersih – bersih pun tak cukup dengan sekali mengepel saja. Cukup untuk membuatku berkeringat. Ya, saya anggap ini bersih-bersih sekaligus olahraga. Tepung sagu yang habis dibuat mainan itu juga telah membatalkan niatku membuat pempek-pempek.

Capek itu saya rasakan tapi melihat wajah gembira mereka, semua terbayar lunas. Yang membuatku selalu terhibur, jika melihat saya duduk sambil menyelonjorkan kaki biasanya mereka  berdua langsung mendekat.

“Capek ya Mi?” sambil  kedua tangan mungil mereka memijit pelan kakiku. Meskipun tidak terasa, pijatan sayang mereka membuatku bahagia.

Saya berusaha memahami bahwa apa yang anak-anakku lakukan memang wajar untuk anak seusianya. Memberi mereka ruang untuk menikmati dunianya, semoga bisa membuat mereka menjadi pribadi yang pintar dan kreatif.

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Majalah Parenting Indonesia, Edisi Desember 2012

    1. harus terus di chas baterenya mba mey..namanya manusia pasti ada capeknya. Ingat-ingat manfaatnya, supaya capeknya cepet ilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s