Menikmati Petualangan Daihatsu Terios dalam Secangkir Kopi

Kenangan Kopi Tubruk

gambar diambil dari; epetani.deptan.go.id

Sejak kecil saya telah mengenal kopi yang satu ini,kopi tubruk namanya. Bukan sebagai penikmat kopi namun sebagai pengamat, he,he,he. Adalah Mbah Putri almarhum yang telah memberi kenangan itu. Mbah Putri,sewaktu masih sehat dan kuat, suka membuat kopi tubruk sendiri, bukan menyeduh kopi tubruk ya. Namun mengolah biji kopi menjadi kopi tubruk.

Saya masih ingat betul bagaimana Mbah Putri dengan telatennya mengolah biji kopi dengan cara tradisional tanpa bantuan mesin. Mbah Putri membeli biji kopi kering di pasar dan kemudian mengolahnya menjadi kopi tubruk. Mula-mula biji kopi disangan (disangrai) di atas tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Biji kopi harus terus diaduk agar matang secara merata. Aroma gosong-gosong enak akan tercium ketika proses ini berlangsung. Sambil terus mengaduk biji kopi, Mbah juga harus menjaga agar kayu bakar tetap membara.

Butuh waktu tidak sedikit untuk mendapatkan biji kopi yang matang. Seingat saya ketika semua biji kopi telah berwarna hitam,itu tandanya biji kopi harus segera diangkat. Proses selanjutnya tidaklah ringan untuk seusia Mbah, yaitu menumbuk biji kopi yang telah matang dengan alat yang masih tradisonal yaitu lumpang (lesung) dan alu. Biji kopi matang di taruh dalam lumpang dan ditumbuk dengan alu sampai tingkat kehalusan yang diinginkan. Kopi yang ditumbuk Mbah cukup halus meski masih ada butiran-butiran kasar. Menumbuk dengan cara ini jelas membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak singkat. Tapi ternyata Mbah kuat dan telaten sekali melakukannya.

Setelah kopi selesai ditumbuk maka Mbah akan mengemas dalam plastik kecil-kecil. Ukuran ini kata Mbah, untuk porsi satu gelas untuk sekali seduh. Kopi yang telah dikemas kemudian dititipkan di warung untuk dijual. Pelanggan kopi Mbah juga suka membeli langsung ke rumah, dengan kemasan yang lebih besar, biasanya 1/4 atau 1/2 kg. Kopi tubruk telah membuat Mbah memiliki penghasilan tambahan.

Jaman saya kecil keberadaan kopi tubruk di kampungku masih menjadi favorit. Bapak dan Ibu juga suka meminum kopi tubruk, tentu saja kopi tubruk buatan Mbah Putri. Bapak suka kopi tubruk kental, kalau di kampung saya disebut buket. Untuk mendapatkan segelas kopi buket, maka bubuk kopi harus lebih banyak dari porsi pada umumnya.Sementara Ibu lebih suka yang kopi yang lebih encer. Kadang kalau ada susu kental manis maka Bapak juga suka menambahkan susu kental manis, jadilah kopi susu ala tubruk. Oh ya, keluarga kami terbiasa meminum kopi dengan gelas bukan cangkir.

segelas kopi rubruk yang mengingatkan saya pada bapak gambar diambil dari goorme.com

Untuk mendapatkan segelas kopi tubruk yang nikmat maka kopi harus diseduh dengan air panas, ingat: harus panas bukan hangat ya. Ini untuk mendapat aroma dan rasa kopi yang nikmat. Kata bapak, jika air yang digunakan tidak panas maka aroma kopi tidak keluar dan rasa kopi jadi anta alias tidak enak. Aroma kopi tubruk memang khas, aroma yang selalu mengingatkan saya akan kehangatan keluarga kami. Rasa kopi tubruk yang menurut saya pahit bahkan sangat pahit itu ternyata telah memberi kenikmatan buat Bapak di setiap pagi.

Kini setelah menikah, ternyata suami saya juga suka minum kopi. Hobinya menonton pertandingan sepakbola di televisi terasa klop dengan secangkir kopi. Ya, pertandingan sepakbola seperti Liga Inggris dan Liga Spanyol kan tayang tengah malam maka secangkir kopi menjadi teman setia.

Beda generasi, beda pula cara menikmati kopi. Kalau Bapak dan Ibu saya meminum kopi tubruk maka suami saya suka kopi instan dalam kemasan. White Coffe menjadi favorit suami saya. Selain rasanya nikmat, kopi jenis ini juga bisa bersahabat dengan lambung suamiku. Kandungan acid yang rendah membuat suamiku bisa menikmati secangkir kopi tanpa kawatir sakit maag nya kambuh. Kalau dulu Bapak dan Ibu saya menikmati kopi dengan gelas maka suami saya cukup dengan cangkir.

Kopi dan Gaya Hidup

Minum kopi telah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Bapak saya pun, selalu mengawali hari dengan minum kopi. Tak lengkap rasanya, jika belum minum kopi. Kebiasaan ”ngopi dulu” telah melekat dalam kehidupan bapak saya, begitupun kehidupan masyarakat Indonesia.

Di pelosok negeri ini, warung-warung kopi telah lama ada. Bahkan istilah warung kopi alias Warkop kemudian menjadi nama grup lawak yang legendaris. Ini menandakan bahwa keberadaan kopi telah lekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Menikmati segelas kopi di warung kopi sambil mengobrol dengan sesama pengunjung adalah gambaran suasana Kafe-kafe tradisional. Hidangan pisang goreng, ketan (jadah), dan aneka gorengan lainnya menjadi teman minum kopi.

Saya jadi teringat, ketika sore hari Ibu saya membuat Mendoan, Bapak pasti selalu minta dibuatkan kopi.

”Kopine endi bu, kiye mendoane wis ngenteni! Pinta bapak dalam Bahasa Banyumas.

Artinya, kopinya mana bu, mendoan telah menanti untuk disantap. Kopi panas dan mendoan anget menjadi favorit Bapak.Menyeruput kopi panas, ada caranya. Bapak biasa menuang sebagian kopi panas ke atas lepek (piring kecil) dan meniupnya sebentar kemudian menyeruputnya pelan-pelan.

cara bapak menyeruput kopi
gambar diambil dari sicknezshock.blogspot.com

Sekarang penyajian kopi yang semakin praktis membuat anak-anak muda pun suka minum kopi. Variasi rasa seperti mocacino, vanila, espreeso, dan lain-lainnya itu telah membuat kaya rasa kopi. Tempat minum kopi pun tumbuh semakin moderen. Kafe-kafe menjadi tempat minum kopi bagi mereka yang mampu secara ekonomi. Selain di kampung-kampung, kopi telah merambah, menjelma menjadi minuman favorit semua kalangan.

Kopi dan Indonesia

Kopi telah memberi banyak kenangan orang-orang yang saya cintai. Kini, setelah belasan tahun berlalu dalam sebuah lomba blog mata saya menjadi terbuka. Indonesia ternyata telah menjadi produsen kopi terbesar nomor empat di dunia, dibawah Brazil dan Kolombia. Porsi terbesar produksi kopi Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Sebanyak 67 % dari total produksi di ekspor ke negara-negara seperti Amerika, Jepang dan negara- negara Eropa.

Hal tersebut tidak terlepas dari sejarah panjang keberadaan tanaman kopi di Indonesia. Berawal dari masa tanam paksa saat penjajahan Belanda, kopi telah menjadi salah satu jenis tanaman yang dibawa Belanda ke Indonesia.

Iklim Indonesia yang tropis memang cocok untuk pertumbuhan tanaman kopi. Setelah melewati jalan panjang sejarah, beberapa tanaman kopi di Indonesia pernah ditanam di Indonesia. Diantara jenis kopi yang pernah ditanam di Indonesia tersebut ada dua jenis kopi yang amat terkenal dan menjadi andalan ekspor yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta.

Saat ini, perkebunan kopi tersebar di sepanjang pulau Sumatera, Jawa, Bali, Flores, Sulawesi dan Papua. Masing-masing daerah tersebut menghasilkan kopi dengan aroma dan citarasa yang berbeda. Perbedaan jenis tanah, ketinggian permukaan tanah, varietas kopi, pengolahan dan penyimpanan diyakini memberi andil pada keanekaragaman aroma dan citarasa kopi Indonesia.

Jangan heran jika suatu hari anda menemukan kopi dengan citarasa jeruk, kacang, herbal, rempah-rempah, coklat dan tembakau. Unik bukan?. Selain unik citarasa kopi Indonesia juga dikenal sebagai salah satu kopi terbaik di dunia. Hal ini diakui pula oleh salah satu gerai kopi yang terkenal di dunia yaitu Starbucks yang menjadikan beberapa daerah penghasil kopi di Indonesia sebagai sentra produksi kopinya. Daerah yang menjadi pemasok kopi bagi Starbucks adalah Sumatera dengan kopi gayo, kopi mandailing dan kopi linthong, demikian pula Jawa, Flores dan Sulawesi.

Fakta ini tentu memberi berkah bagi para petani kopi di Indonesia. Sebagian besar kopi Indonesia dihasilkan okeh para petani kecil, dimana luas tanahnya kurang dari satu hektar. Semoga para petani kecil ini juga ikut menikmati keuntungan bertanam kopi. Sehingga secara ekonomi mampu berdaya dan meningkat menjadi petani besar.

Salah satu faktor yang mempengaruhi citarasa kopi adalah cara pengolahan. Dalam dunia per kopi an dikenal tiga cara mengolah biji kopi yaitu pertama dengan cara kering, dimana biji kopi dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari alias dijemur. Setelah kering biji kopi dikupas kulit luarnya sehingga kulit biji yang kering terpisah dari buahnya, biasanya dengan menggunakan mesin.

Cara kedua yaitu dengan cara kupas basah (wet hulled/semi washed), biasanya biji kopi basah dikupas oleh luwak. Setelah terkupas biji kopi yang masih bergetah kemudian disimpan terlebih dahulu selama satu hari. Setelah disimpan biji kopi dibersihan dari getah yang masih menempel dan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Cara ketiga yaitu pencucian penuh dimana biji kopi basah langsung dikupas kulit luarnya biasanya menggunakan mesin giling. Setelah dikupas kopi akan disimpan untuk difermentasikan selama satu sampai dua hari guna mendapatkan aroma yang diinginkan. Setelah itu kopi dikeringkan dengan dijemur, baru kemudian cangkang bisa dikupas dan kopi siap dijual atau pun disimpan kembali selama dua sampai tiga tahun guna mendapatkan aroma woody dan kayu manis.

Wah, perjalanan biji kopi untuk menjadi secangkir kopi nikmat ternyata amat panjang. Tak mengherankan harga kopi bisa amat mahal.

Kopi dan Daihatsu

ini dia tim 7 wonders
gambar diambil dari daihatsu.co.id

Kekayaan alam Indonesia yang melimpah telah menggugah Daihatsu untuk turut mengabarkan pada dunia akan hal ini. Kali ini pulau Sumatera dipilih karena kekayaan alam berupa kopi yang nikmat. Sepanjang pulau Sumatera dimulai dari Lampung hingga Aceh, berjajar bentangan kebun-kebun kopi. Setidaknya ada 7 tempat penghasil kopi di pulau Sumatera. Tak mengherankan jika julukan sebagai Coffe Paradise disematkan pada pulau ini. Tempat-tempat inilah yang dieksplorasi oleh tim 7 Wonders dengan mengendarai Daihatsu Terios sebagai mobil sahabat petualang. Jarak sejauh lebih 3300 km ditempuh tim 7 Wonders dalam petualangan kali ini. Medan yang penuh tantangan ternyata mampu dilalui hingga finish di titik nol kilometer.

Kepedulian akan kekayaan alam Indonesia berupa kopi sebagai aset berharga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk menjaga, memelihara dan memanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Tim 7 Wonders telah mengawali dengan baik. Berkunjung ke 7 tempat penghasil kopi tentu akan memberi wawasan terkini kondisi perkebunan kopi tersebut. Semangat mengabarkan tentang Sumatera Coffe Paradise diharapkan bisa menular kepada mereka yang telah meninggalkan kebun-kebun kopi mereka. Ya,kondisi yang terlihat paradoks, ketika Indonesia menjadi negara pengekspor kopi keempat terbesar dan rasa kopi yang nikmat telah diakui dunia sementara itu dibeberapa tempat petani kopi harus menerima kenyataan kopi mereka dijual dengan harga rendah karena dikuasai tengkulak. Beberapa dari mereka memilih untuk tidak lagi menanam kopi. Ironis bukan?

Semoga saja petualangan Tim 7 Wonders bisa membangkitkan semangat para petani untuk kembali menanam kopi.

Sebagai produsen mobil yang telah eksis, petualangan Sumatera Coffe Paradise tentu memiliki arti penting yaitu uji perfoma mobil Daihatsu Terios. Perfoma yang tangguh tentu menjadi faktor penting bagi konsumen dalam menentukan mobil pilihannya. Ketangguhan Daihatsu Terios yang teruji akan membuktikan sebagai mobil sahabat petualang.

Daihatsu Terios adalah SUV berkapasitas 7 tempat duduk yang nyaman. Dilengkapi dengan 1.5 VVT-I powerfull engine dan electric power steering untuk meringankan kemudi dan hemat bahan bakar. Sedangkan untuk kestabilan selama berkendara maka mobil ini dilengkapi dengan Macpherson Strut With Oil Spring. Selain itu untuk pengereman yang mantap maka mobil ini dilengkai dengan Disc Brake. Minimnya benturan yang dirasakan oleh penumpang juga menjadi faktor kenyamanan selama berkendara oleh karena itu TAF Body pada mobil berfungsi menyerap benturan sehingga lebih aman dan nyaman.

Eksterior mobil ini terilhat elegan namun garang. Dilengkapi dengan projector head lamp yang mampu menyinari secara maksimal namun tidak membuat silau. Ditambah lagi dengan New Center Cluster dengan aksen metal dan chrom terihat sporty dan mewah.

Interiornya dilengkapi dengan New Meter Combination yang sporty dan mewah namun tetap mudah dibaca. Memiliki mobil ini seperti memiliki dua hal sekaligus yaitu kemewahan dan ketangguhan.

Siapkan Secangkir Kopi dan Nikmatilah Petualangan Tim 7 Wonders bersama Mobil Sahabat Petualang:Daihatsu Terios

Tim & Wonders mengawali start pada tanggal 10 Oktober 2012 di Jakarta dengan dilepas jajaran managemen dan staf Astra Daihatsu Motor. Doa dan harapan tentu tercurah pada tim ini. Keberhasilan melalui beragam tantangan akan menjadi keberhasilan misi perjalanan ini.

Tim 7 Wonders membawa 3 unit mobil Daihatsu Terios, terdiri dari Terios TX-AT 2 Unit dan Terios MT 1 unit. Tim yang terdiri dari 10 orang ini memulai perjalanan menuju Pelabuhan Merak, menyebarangi Selat Sunda dengan menggunakan kapal feri membawa Tim 7 Wonders pada pintu gerbang Pulau Sumatera yaitu Pelabuhan Bakaheuni,Lampung.

Tim Terios 7 Wonders dalam laporannya menyebutkan bahwa sepanjang jalan menuju Bandarlampung, mobil mampu melaju pada kecepatan lebih 120 km/jam. Berbeda ketika memasuki kota Bandarlampung yang ramai, mobil hanya melaju pada kecepatan 40 km/jam.

Propinsi Lampung adalah penyumbang ekspor terbesar kopi Indonesia. Sebesar 70% ekspor kopi nasional berasal dari Lampung. Tujuan utama Tim Terios 7 Wonders adalah daerah penghasil kopi di Kabupaten Lampung Barat, yaitu Liwa.

Kota Liwa adalah ibukota kabupaten Lampung Barat. Liwa merupakan salah satu jalur lintas barat sumatera. Perjalanan menuju Liwa ditempuh melalui Bukit Kemuning. Performa Daihatsu Terios di uji dengan melewati banyak tikungan pendek dan tajam serta tanjakan terjal. Perpindahan transmisi pun dilakukan beberapakali, untuk Terios AT berpindah dari D3 ke 2 sementara untuk Terios MT berpindah dari 4 ke 3. Performa Daihatsu Terios mantap di jalur ini berkat mesin 3SZ-VE DOHC VVT-I 1.495 cc yang melengkapinya.

Tiba di Liwa sore hari, Tim Terios 7 Wonders memilih menginap di dekat Danau Ranau, sebuah danau nan eksotis yang terletak di kaki Gunung Seminung. Terletak di wilayah pegunungan, membuat Liwa memiliki hawa yang sejuk. Tanah di wilayah ini terkenal dengan kesuburannya. Sehingga hasil pertanian dan perkebunan pun melimpah. Salah satu komoditas perkebunan yang menjadi andalan wilayah ini adalah kopi. Jenis kopi yang dihasilkan dari Liwa adalah jenis kopi Robusta. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai kopi Semendo.

Citarasa kopi Liwa amat khas, selain itu rasanya nikmat. Citarasa kopi Liwa telah dikenal sampai luar negeri dan diakui sebagai kopi terbaik. Tim Terios 7 Wonders pun memulai eksplorasinya dengan menikmati secangkir kopi luwak yang termasyhur kenikmatannya itu sekaligus mengunjungi penangkaran luwak serta sentra produksi kopi luwak.

Kopi Liwa diolah dengan menggunakan luwak sebagai media fermentasi. Luwak adalah sejenis musang yang banyak ditemukan didaerah Lampung Barat. Jenis Luwak yang senang memakan biji kopi adalah Luwak Pandan dan Luwak Bulan. Kedua Luwak ini akan memakan biji kopi yang benar-benar matang, yaitu yang berwarna merah dan segar. Kedua Luwak ini menyukai biji kopi yang baru dipetik atau berumur maksimal 2 hari setelah pemetikan. Biji kopi yang telah dimakan oleh Luwak akan terfermentasi dalam saluran pencernaan Luwak. Biji kopi kemudian dikeluarkan dalam bentuk kotoran Luwak. Biji kopi kemudian dicuci bersih sebelum diproses lebih lanjut. Proses fermentasi didalam pencernaan Luwak telah membuat rasa kopi Liwa khas dan begitu nikmat. Kabarnya kopi luwak yang dimakan Musang Pandan lebih nikmat rasanya ketimbang kopi luwak yang dimakan Musang Bulan.

luwak, musang pemakan biji kopi
gambar diambil dari http://www.daihatsu.co.id

Rasanya yang nikmat telah membuat kopi Luwak mahal harganya. Harga perkilogramnya bisa mencapai jutaan rupiah. Jadi jangan heran jika ingin menikmati secangkir kopi Luwak anda harus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah.

Aroma kopi sekarang telah memiliki variasi. Di Liwa terdapat kopi beraroma ginseng dan pinang. Di sebuah pabrik kopi, aroma kopi ginseng dan pinang dikembangkan. Setelah melakukan beberapakali uji coba akhirnya didapatkan komposisi yang pas antara jumlah kopi dan ginseng atau pinang agar didapat rasa yang pas. Penambahan ginseng dan pinang adalah pada saat biji kopi disangrai. Bagi anda pencinta kopi, sensasi kopi beraroma ginseng dan pinang patut dicoba.

Setelah mengeksplorasi kopi di Liwa maka Tim Terios 7 Wonders melanjutkan petualangan menuju kota Lahat dengan jarak tempuh 309,4 km. Lahat adalah salah satu tempat penghasil kopi yang berada di Provinsi Sumatera Selatan.

Kedatangan tim 7 Wonders mendapat sambutan hangat dari Bupati Lahat, Saifudin Aswari Riva’i. Selain menyambut dengan mengajak minum kopi, tim juga mendapat kejutan dari Sang Bupati yang menunjukkan mobil dinasnya berupa Daihatsu Terios. Pilihan pak Bupati terhadap

daihatsu Terios tentu karena perfoma mobil ini yang cocok di segala medan salah satunya di Lahat yang merupakan tempat mobilitas Pak Bupati.

Lahat memiliki areal perkebunan yang luas, namun perkebunan kopi sedang mengalami masa suram dimana harga kopi dikuasai tengkulak. Hal ini telah menyebabkan kebun kopi mulai ditinggalkan. Hm, potret permasalahan klasik yang belum tersolusikan.

Dari Lahat, Tim 7 Wonders melanjutkan petualangan ke Pagaralam, salah satu wilayah di Provinsi Sumatera Selatan. Menuju ke Pagaralam Daihatsu Terios diuji dengan jalan bergelombang dan berkelok-kelok tajam serta sesekali diikuti dengan tanjakan terjal. Perpindahan shifter matic pun dilakukan untuk menjaga akselerasi mobil. Perfoma Daihatsu Terios yang fit membuat perpindahan shifter matic lancar terkendali padahal mobil penuh dengan penumpang dan barang bawaan.

Pagaralam merupakan wilayah pegunungan di Sumatera Selatan yang terkenal sebagai wilayah perkebunan seperti teh dan kopi. Selain itu Pagaralam merupakan Lumbung Padi. Posisinya yang berada di kaki Gunung Dempo telah memberi berkah kesuburan tanah. Sehingga tanaman perkebunan seperti kopi tumbuh subur di sini. Pengolahan kopi di Pagaralam telah dibantu dengan mesin pada saat me roaster maupun menggiling kopi. Pagarlam merupakan penghasil kopi terbesar di Sumatera Selatan.

di kebun kopi
gambar diambil dari http://www.daihatsu.co.id

Kebiasaan masyarakat Sumatera Selatan untuk minum kopi telah berlangsung lama. Ketika saya tinggal di Kota Palembang, telinga saya akrab dengan kata ”ngupi” yang artinya ngopi atau minum kopi. Tidak mengherankan karena memang tiga kabupaten di provinsi ini merupakan penghasil kopi.

Setelah itu Tim 7 Wonders bergegas menuju di Kabupaten Empat Lawang,Sumatera Selatan. Jarak sekitar 121,6 km dari Pagaralam ditempuh dalam waktu 3 jam. Sepanjang rute yang dilalui, Daihatsu Terios diuji dengan jalan yang menyempit dan berkelok-kelok. Kondisi jalan yang seperti ini tentu membuat Tim 7 Wonders harus ekstra hati-hati. Perfoma daihatsu Terios pun tidak maksimal.

Kabupaten Empat Lawang memiliki komoditas kopi yang merupakan campuran dari kopi Robusta dan Arabica. Menurut salah seorang pemilik tempat pengolahan kopi, kopi empat lawang secara wujud adalah kopi Robusta yang beraroma Arabica. Kabupaten Empat Lawang pun telah menjadikan biji kopi sebagai ikon kabupaten ini. Selain itu baju batik bercorak biji kopi menjadi seragam wajib para PNS di sini.

mengatasi jalur berkelok
gambar diambil dari http://www.daihatsu.co.id

Kopi memang menjadi komoditas andalan kabupaten ini. Pemanfaatannya ternyata tidak terbatas pada bijinya saja. Kayu hasil peremajaan dan juga daun kopi dikembangkan menjadi benda seni. Ditangan para perajin, kayu dan daun kopi disulap menjadi souvenir yang memiliki nilai ekonomi. Satu kesadaran dan upaya yang patut dicontoh dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat.

Eksplorasi yang menyenangkan di Kabupaten Empat Lawang harus disudahi. Tim 7 Wonders pun melanjutkan perjalanan ke Curup yang merupakan daerah penghasil kopi di Propinsi Bengkulu.Perjalanan menuju Curup ditempuh melalui Kepahiang.

Curup merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu. Komoditas daerah ini selain beras dan sayuran juga memiliki komoditas andalan yaitu kopi. Letak wilayah Curup yang berada di sepanjang bukit barisan dan dikelilingi oleh Bukit Daun dan Bukit Kaba telah menjadikan tanaman kopi tumbuh subur di sini.

pantai barat-bengkulu utara
pantai barat-bengkulu utara
gambar diambil dari http://www.daihatsu.co.id

Kopi Curup di pasaran dikenal sebagai kopi Bengkulu, meski belum sepopuler kopi dari wilayah lain di Sumatera,kopi Curup tidak kalah nikmat. Di Bengkulu sendiri, penghasil kopi tersebar di berbagai daerah mulai dari Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Kaur,Kepahiang, Lebong, Muko-muko, Rejanglebong, Seluma dan Kota Bemgkulu. Dengan total luas perkebunan Kopi Robusta mencapai 95.313 ha.

Menyudahi petualangan di Curup, Tim Terios 7 Wonders melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi. Jalur yang tempuh adalah melalui Muko-muko dan Padang berjarak sekitar 617 km dengan waktu tempuh sekitar 18 jam. Perfoma Daihatsu Terios diuji kembali dengan tikungan-tikungan tajam, tanjakan dan turunan ditambah dengan cuaca panas dengan suhu 35 derajat celcius telah menguras stamina anggota Tim dan juga Daihatsu Terios yang dikendarai.

Kondisi beberapa jalan terlihat rusak akibat gempa bahkan ada yang longsor sehingga tidak bisa dilewati dan jalur baru pun dibuat. Kondisi ini diperparah dengan jalan yang sempit sehingga perjalanan menjadi lebih lama. Meskipun begitu, Daihatsu Terios mampu melewati tantangan ini.

Sesampainya di Bukittinggi Tim melajutkan perjalanan menuju Kabupaten Mandailing Natal (Madheling Natal) di Sumatera Utara. Kopi yang ditanam pertamakali di desa Pakantan adalah jenis kopi Arabica yang dibawa oleh Belanda saat menjajah wilayah ini. Baru kemudian masuklah kopi Robusta ke wilayah ini. Ada fakta yang menarik, ternyata di desa Simpang Banyak Jae Ulu Pulud ditemukan banyak pohon kopi yang usianya sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Ini menandakan bahwa telah lama wilayah ini menjadi sentra produksi kopi.

Di Mandailing Natal terdapat perkebunan kopi rakyat. Perkebunan kopi Robusta seluas 2.145,30 ha dan perkebunan kopi Arabica seluas 1.642,56 ha.

Tim 7 Wonders kembali melanjutkan perjalanan ke Tarutung dan Medan dengan menyusuri desa hingga ke pedalaman. Jalur aspal yang sempit telah memaksa tim untuk hati-hati berkendara agar tidak terperosok ketika berpapasan dengan kendaraan lain. Petualangan seru pun berlanjut dari dengan melewati jalur tanah, bagi petualang sejati jalur tanah yang terguyur hujan dan becek tentu bisa memuaskan adrenalin mereka.

Daihatsu Terios kembali diuji di tantangan yang berbeda dan hasilnya ternyata oke punya. Ground clearence nya tidak gampang mentok dan girboks matic nya ternyata tangguh juga dibawa offroad.

Di kota Medan Tim 7 Wonders beristirahat sejenak di hotel, sementara ketiga Daihatsu Terios yang dikendarai di cek kondisinya di Main Dealer Daihatsu di kota Medan.

Siang harinya, Tim 7 Wonders segera melanjutkan perjalanan menuju Takengon, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Jalur yang dilalui adalah melalui Bireun dan Langsa kemudian sampai ke Takengon. Jarak yang ditempuh adalah sekitar 334,6 km.

Takengon adalah ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Kota Takengon terletak didataran tinggi Gayo. Hawa sejukpun mewarnai hari-hari kota ini. Berada di ketinggian 1200 meter dpl membuat tanaman kopi tumbuh subur di wilayah ini. Sebagian besar masyarakat di dataran tinggi Gayo bertanam kopi. Tanaman kopi amat mudah dijumpai di sela-sela rumah penduduk. Bahkan sampai ada pepatah yang mengatakan ”Maman ilang, maman ijo, beta ilang beta pudaha”, artinya orang di Gayo tak akan pernah lepas hidupnya dari kopi. Bertanam kopi telah menjadi sumber nafkah bagi orang di dataran tinggi Gayo.

Kopi Arabica adalah kopi yang menjadi andalan ekspor ke berbagai negara seperti Amerika dan Eropa. Sedangkan kopi robusta lebih sukai masyarakat Gayo.

Kopi asal Takengon ini terkenal sebagai Kopi Gayo. Kopi Gayo menjadi salah satu kopi nikmat pilihan Starbucks. Nikmatnya citarasa kopi Gayo telah membuat Starbucks memilihnya menjadi salah satu sentra produksi kopinya.

Kebiasaan meminum kopi juga telah lama ada di Takengon. Warung-warung kopi tradisional banyak ditemui di sepanjang wilayah ini. Udara sejuk dan cuaca berkabut menyelimuti Takengon, secangkir kopi panas tentu akan mampu menghangatkan badan.

Puas bereksplorasi di Takengon dengan kopi Gayonya maka Tim 7 Wonders harus segera melanjutkan perjalanan ke kota Sabang untuk mencapai finish di titik nol kilometer.

Cuaca berkabut mewarnai perjalanan Tim 7 Wonders dari Takengon menuju Sabang. Namun kondisi ini bisa dilalui oleh Daihatsu Terios.

Perjalanan panjang dari Jakarta hingga Sabang akhirnya selesai di Tugu Nol Kilometer pada tanggal 24 Oktober 2012. Rasa puas dan bangga tentu mengalahkan rasa penat dan lelah selama perjalanan.

Kebahagian tentu saja menjadi milik PT.Astra Daihatsu Motor yang telah berhasil membuktikan ketangguhan mobil Daihatsu Terios sebagai mobil sahabat petualang. Berbagai kondisi jalan sepanjang pula Sumatera bisa dilalui walaupun penuh dengan hambatan. Jalan lurus,jalan berkelok, tikungan tajam,turunan, jalan sempit, jalanan rusak, jalan tanah becek dan berlumpur, jalanan berbatu ternyata mampu dilibas.

Daihatsu Berbagi

Sebagai sebuah perusahaan, apalagi sebesar Astra maka kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) adalah sebuah keniscayaan. Kepedulian terhadap kondisi di negeri ini dan kemudian memberi bantuan untuk mereka yang membutuhkan amatlah mulia.

Dalam rangka itu pula Tim 7 Wonders melakukan kegiatan CSR di sela-sela perjalanan Tim 7 Wonders. Kegiatan CSR dilakukan di kota Bengkulu dan Medan dengan memberi bantuan kepada dua posyandu dan beberapa UMKM binaan.

Melengkapi keberhasilan misi ini juga mereka wujudkan dengan memberi 3 ekor sapi untuk berkorban pada hari Raya Idul Adha. Hewan sapi diserahkan kepada Taklim Masjid Raya Banda Aceh.

Mission Accomplish

horee…finish!
gambar diambil dari http://www.daihatsu.co.id

Dengan berhasilnya Tim 7 Wonders mencapai finis di titik nol kilometer setelah melalui beragam tantangan medan yang beragam dan berat, dan juga tercapainya eksplorasi Sumatera Coffe Paradise dibarengi dengan kegiatan CSR di dua tempat maka misi dinyatakan selesai.

Uji perfoma yang mengesankan dari Daihatsu Terios membuktikan bahwa Daihatsu Terios memang SUV tangguh sebagai mobil sahabat petualang. Hal ini tentu membahagiakan dan membanggakan bagi segenap jajaran managemen dan staf Astra Daihatsu Motor. Semoga ekspedisi semacam ini dengan membawa misi positif tentu akan memberi pencerahan tentang kondisi terkini di setiap wilayah Indonesia yang dikunjungi.

Tulisan ini ikutsertakan dalam lomba blog Mobil Sahabat Petualang yang diselenggarakan oleh Daihatsu dan Blogdetik

Sumber:

www.daihatsu.co.id

www.daihatsu.co.id/terios7wonders/news

http://www.aeki-aice.org/index.php?option=com_content&view=article&id=5&Itemid=11&lang=in

http://m.okezone.com/read/2012/09/05/299/685394/deretan-kopi-nusantara-dengan-delapan-citarasa-i

http://m.okezone.com/2012/11/16/299/719131/starbucks-jatuh-cinta-dengan-kopi-indonesia

http://www.sca-indo.org/id/keanekaragaman-kopi-indonesia/

http://m.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/12/04/25/m30grh-kopi-lampung-dominasi-kopi-nasional

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Produksi_kopi_di_Indonesia

http://id.m.wikipedia.org/liwa

http://id.m.wikipedia.org/Curup,_Rejang_Lebong

http://id.m.wikipedia.org/Kabupaten_Empat_Lawang

http://id.m.wikipedia.org/Takengon

http://www.bironk.com/kopi-gayo-aceh/

http://www.bironk.com/kopi-bengkulu/

http://regioanlinvesment.bkpm.go.id/newsipid/id.commodityarea.php?ic=62&ia=1202

http://botsosani.wordpress.com/2010/11/30/berburu-kopi-gayo-di-takengon

6 thoughts on “Menikmati Petualangan Daihatsu Terios dalam Secangkir Kopi

  1. Hmmm asyiknya touring sambil eksplore kopi sumatra….:-). Saya penggemar kopi, kalo ada tugas luar, selalu berusaha ndapetin & nyobain kopi khas daerah tsb.

    1. wah ada coffe lover, senangnya bisa berkunjung ke berbagai tempat dan menikmati kopi khas suatu daerah..terimaksih kunjungannya Mba Yani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s