Ubah Cara Mengajar Demi Kemajuan Pendidikan Indonesia

pustakasekolah.com

Berbicara tentang Guru, saya punya banyak cerita. Mulai dari guru yang galak yang sering membuat takut dan tegang, guru yang suaranya lembut hingga seringkali tidak terdengar sampai ke seantero kelas, ada juga guru yang pintar sekali sehingga saking pintarnya saya malah tidak memahami penjelasaannya, ada guru yang sudah sepuh sehingga bicaranya tidak terlampau jelas kadang terdengar sebagai gumaman sehingga seringkali dicuekin murid-muridnya yang duduk di barisan belakang,yang ini kasihan banget.

guru yang bisa memotivasi adalah guru terbaik
gambar diambil dari: kompasiana

Diantara semua guru saya ada satu guru yang galak tapi pintar dan telah memotivasi saya untuk terus menulis yaitu guru kelas 4 SD di sekolah saya dulu. Saat itu beliau memberi tugas membuat tulisan yang menceritakan pengalaman semasa liburan dan beliau membacakannya didepan kelas (cuma tulisan saya lho yang dibacakan). Ini membuat saya GR sampai sekarang dan selalu terkenang akan hal itu. Pengalaman itu telah memotivasi saya untuk menulis walaupun awalnya hanya menulis di Blog pribadi.

seharusnya bisa lebih maju dari ini
gambar diambil dari : satelitnews.co.id

Saya memang kadang terlalu kritis jika berbicara tentang cara mengajar para guru. Jujur, cara mengajar konvensional dimana guru berdiri di depan kelas dan murid harus senantiasa mendengar dan mencatat sering membuat saya bosan dan tidak memahami pelajaran karena sibuk mencatat. Maunya sih protes tapi tidak berani dan tidak tega apalagi jika gurunya sudah sepuh. Hanya bisa miris melihat kenyataan ketika guru menjelaskan, murid-murid malah asyik ngobrol (termasuk saya,qi,qi,qi), maaf ya Bapak dan Ibu Guru.
Makanya ketika sekarang anak saya telah sekolah, ingin sekali ada perubahan dalam metode pengajaran di sekolah. Apalagi jaman kan sudah berubah, teknologi juga semakin maju. Seharusnya metode pengajaran di sekolah pun harus menyesuaikan terhadap perubahan. Sudah jamannya komputerisasi masa iya, guru mengajarnya masih pakai papan tulis hitam dan kapur tulis. Duh, kesannya gaptek begitu. Sekolah kan tempatnya ilmu pengetahuan dan orang-orang pintar, seharusnya semua yang berbau teknologi dipakai di sekolah termasuk komputer.
Perkembangan teknologi juga telah melahirkan adanya internet. Dimana internet ini adalah sumber pengetahuan. Internet bisa memberikan informasi seluas-luasnya karena itu internet bisa dijadikan sebagai sarana dalam pembelajaran. Sudah sewarjarnya dong jika metode pembelajaran di sekolah menggunakan metode e-learning. Metode ini bisa bermanfaat tidak hanya bagi siswa tapi juga bermanfaat bagi guru.

belajar dengan komputer dan internet
gambar : Kompas Images

Bagi siswa tentu bermanfaat dalam penguasaan teknologi dan metode belajar yang tidak monoton. Sedangkan bagi guru menurut Adri internet bermanfaat sebagai sumber dan sarana pembelajaran meliputi kegiatan browsing (penjelajahan dunia maya),sumber pengajaran (resourcing), menemukan informasi, konsultasi dan komunikasi (consulting and communicating). [1]

Salah satu yang bisa dimanfaatkan sebagai media untuk pembelajaran adalah Blog. Di sini guru bisa menuliskan materi pelajaran dengan gaya tulisan sendiri. Para guru yang tergabung dalam blog guru juga telah menempuh langkah sama yaitu menggunakan blog sebagai sarana pembelajaran.
Blog bisa dipilih karena beberapa alasan. Alasan yang pertama tentu blog bisa dijadikan sarana bagi guru dalam meningkatkan kompetensi menulis. Kompetensi menulis wajib dikuasai oleh guru karena adanya Permenpan No.16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit. Dimana guru yang akan naik pangkat IIIB ke atas harus membuat karya tulis ilmiah yang akan dihitung sebagai angka kredit jabatan fungsional. Permenpan ini mulai berlaku efektif tahun 2013.[2]
Wah, tahun 2013 tinggal sebentar lagi. Apakah guru-guru kita telah memiliki kemampuan menulis?. Ternyata belum semua guru di Indonesia melek menulis walaupun sesungguhnya kegiatan menulis sebenarnya erat dengan dunia pendidikan. Menulis disini tentu saja bukan menulis buku harian ya tapi menulis bahan ajar, menulis artikel di media massa, menulis materi pelajaran di blog dan yang paling tinggi menulis karya ilmiah.
Untuk yang terakhir tadi ternyata guru-guru kita masih kesulitan dalam menulis karya ilmiah. Menurut data yang dilansir tahun 2011 oleh Badan Musyawarah Perguruan Swasta, ada sekitar 300 ribu Guru sulit naik golongan dari IVB ke IVC karena sedikitnya karya ilmiah yang dihasilkan.[3]
Fakta ini adalah salah satu potret permasalahan pendidikan di Indonesia. Rendahnya kompetensi menulis para guru disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor minat menjadi alasan yang sering muncul. Kenapa sih harus bisa menulis, kan tidak semua guru suka menulis?. Adanya Permenpan di atas, guru sebenarnya telah memiliki ”alasan pemaksa” untuk menulis. Sudah seharusnya alasan minat yang rendah atau bahkan tidak berminat sama sekali harus disingkirkan jauh-jauh.
Alasan berikutnya biasanya tidak ada waktu. Tugas pokok guru kan sudah seabrek dari mulai tugas pokok yang harus dijalankan di sekolah. Setelah sampai rumah tugas rumahtangga dan tugas sebagai anggota masyarakat pun menanti. Banyak kan dari para guru yang menjadi pengurus RT/RW. Bertambah pula beban ketika harus mencari penghasilan tambahan. Bapak Guru tetangga saya, nyambi bertanam sayuran guna mendapatkan penghasilan tambahan. Pagi-pagi buta jika masa panen maka beliau akan pergi ke pasar menjual hasil panennya. Ditambah pula tuntutan untuk menimba ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi mana sempat menulis, menulis kan sulit.
Ehm, paradigma bahwa menulis itu sulit menjadi alasan berikutnya. Padahal menulis itu sederhana. Menulis adalah aktifitas menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan. Menulis bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana. Peristiwa keseharian dan curahan perasaan sekalipun bisa menjadi bahan tulisan. Hanya perlu latihan secara terus-menerus, karena kemampuan menulis adalah sebuah keterampilan. Kita akan terampil menulis ketika sering berlatih. Jadi sesungguhnya menulis tidak melulu sulit dan berat.

Satu tips yang bisa diikuti dan ini dikatakan oleh Indari Mastuti, seorang pendiri komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis Interaktif (IIDN Interaktif), bahwa untuk bisa menulis sesorang harus memaksakan diri untuk menulis, menulis dan menulis. Terus menulis akan membuat kemampuan menulis menjadi terasah.(perempuan bicara, metro tv, 26 agustus 2012)
Tips ini bisa diambil oleh para Guru agar memiliki keyakinan bahwa mereka pun bisa menulis. Setelah tumbuh keyakinan bahwa menulis bisa dilakukan siapa pun termasuk Guru maka langkah kedua adalah mencari media menulis bagi para Guru. Selama ini media yang ada sering bersifat kompetisi, dimana biasanya hanya diikuti oleh Guru yang telah terbiasa menulis. Sedangkan bagi Guru yang belum biasa menulis wadahnya belum ada. Kalau pun ada belum semua Guru tahu dan mau memanfaatkannya.
Salah satu media yang bisa digunakan adalah Blog. Blog secara sederhana bisa didefinisikan sebagai lembaran kertas yang bisa ditulisi dan tulisan tersebut bisa dibaca oleh pengguna internet. Isi blog amat beragam ada curahan hati, fotografi, politik, ekonomi, dan lain-lain. Jadi isi blog bebas, sesuai keinginan dari pemilik blog.
Blog (blog pribadi) adalah media yang praktis, saat itu menulis, saat itu juga tulisan bisa ditayangkan. Disini Guru bisa berlatih menulis dan bisa langsung menampilkan tulisan tersebut tanpa moderasi terlebih dahulu. Hal ini tentu berbeda jika mengirim tulisan ke media massa dimana akan ada seleksi dari redaksinya. Ini diharapkan bisa mempermudah Guru dalam berlatih menulis.
Setelah mampu aktif menulis di Blog, Guru hendaknya terus meningkatkan kompetensi menulisnya dengan menulis mata pelajaran yang diampunya, menulis di media massa dan yang paling tinggi tentu mampu menghasilkan karya tulis ilmiah yang bermanfaat dan bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini tidak hanya membawa pada puncak karier sebagai Guru namun juga bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Alasan kedua menulis di Blog akan memberi manfaat tidak hanya bagi Guru secara pribadi namun juga bisa menunjang kegiatan belajar mengajar. Hal ini tentu karena adanya internet yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia moderen. Keberadaan internet telah mempengaruhi pola hidup masyarakat Indonesia. Internet bukan lagi barang mewah. Jumlah pengguna internet di Indonesia juga bertambah terus setiap tahunnya. Menurut data Kementrian Komunikasi dan Informasi pada tahun 2010, pengguna internet di indonesia telah mencapai 45 juta orang yang mengakses internet melalui komputer dan ponsel.[4]
Angka ini akan bertambah setiap tahunnya dengan semakin luasnya jangkauan internet.Sementara itu pengguna internet dikalangan pelajar mencapai angka yang signifikan. Menurut riset yang dilakukan Yahoo dan TNS di Indonesia pada akhir tahun 2008, pengguna internet yang berusia 15-19 menempati prosentase tertinggi yaitu 64%.[5]

Usia ini merupakan usia remaja yang bersekolah antara SMP dan SMU. Data ini mengkonfirmasi fakta di lapangan dimana banyak pelajar yang menghabiskan waktunya di warnet-warnet meskipun masih dalam jam pelajaran sekolah. Bahkan tidak jarang mereka tertangkap Satpol PP. Wuih, kalau yang satu ini saya tidak termasuk lho. Jaman saya SMP dan SMA dulu belum ada internet. Saya mengenal internet ketika kuliah semester akhir. Itupun dengan koneksi yang masih lelet dan sering terjadi gangguan.
Melihat fakta ini ada alasan strategis mengapa blog bisa menjadi pilihan guru dalam menulis. Tingginya angka pengguna internet dikalangan pelajar bisa dimanfaatkan oleh Guru dalam menyampaikan materi pelajaran melalui blog. Metode belajar melalui blog lebih modern, menarik dan asyik. Disini fungsi guru beralih menjadi fasilitator. Dengan cara ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman siswa terhadap pelajaran.
Beberapa guru di Indonesia telah menggunakan blog sebagai media pembelajaran. Diantara guru-guru tersebut adalah Wijaya Kusumah, Siti Mugi Rahayu, dan guru-guru lain yang aktif berbagi ilmu di komunitas blog guru seperti www.guraru.org.
Alasan ketiga menulis di blog memaksa guru mengatasi ketidakmampuannya dalam mengoperasikan komputer. Fakta ini diungkap oleh Vice President Public and Marketing Communication Telkom kala itu, Edi Kurnia. Beliau mengatakan adanya kesenjangan digital antara Guru dan Murid, para Guru masih banyak yang ketinggalan dalam hal teknologi informasi dibanding dengan para muridnya. [6]
Sudah menjadi rahasia umum sepertinya ya kalau mengenai komputer dan internet bapak dan ibu guru kalah lihai dengan muridnya. Lihat saja murid-murid sekolah jaman sekarang, gadget yang mereka miliki canggih. Tidak hanya bisa untuk telepon dan SMS saja namun memiliki kemampuan akses internet. Tak jarang bukan gadet yang dimiliki guru kalah canggih dengan kepunyaan muridnya.
Kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan tanpa ada tindakan. Kegaptekan guru harus diobati untuk kepentingan transfer ilmu dan juga mengarahkan penggunaan internet secara sehat kepada murid-muridnya. Menulis di blog akan memaksa guru untuk mengoperasikan komputer. Disini guru tidak hanya dituntut bisa mengetik saja namun juga mampu menggunakan internet dengan baik. Lama-kelamaan kegaptekkan guru akan bisa terobati.

Cara Mengajar Di Era Baru
Pada jaman serba teknologi seperti sekarang ini, guru hendaknya mampu meningkatkan kompetensinya untuk kepentingan proses pendidikan dan kemajuan pendidikan itu sendiri. Pesatnya kemajuan teknologi hendaknya tidak membuat guru senantiasa gagap namun bisa ikut melesatkan kompentensinya.
Guru adalah ujung tombak dalam transfer ilmu kepada murid-muridnya. Metode mengajar para guru ikut berpengaruh pada pemahaman dan penguasaan murid terhadap materi. Paling tidak, guru mampu membuat proses belajar mengajar yang enjoy. Sehingga murid tidak lagi jenuh dan malas belajar.
Mengajar secara e-learning harus dioptimalkan di setiap sekolah. Jika ini akan berdampak pada besarnya biaya operasional pendidikan maka pengelolaan anggaran pendidikan sebesar 20% harus tepat guna dan tepat sasaran. Dengan demikian tidak mustahil jika setiap sekolah bisa menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar berbasis e-learning.
Penguasaan teknologi adalah bukti kemajuan pendidikan suatu bangsa. Akankah pendidikan Indonesia maju atau akan selalu berkutat dengan persoalan infrastruktur yang tak kunjung selesai, persoalan bentuk evaluasi belajar yang menuai kontroversi, atau kebijakkan pendidikan yang sering berubah seiring pergantian pemerintahan. Hm, semoga kemajuan pendidikan di Indonesia bukan hanya mimpi.

Tulisan ini diikutsertakan di Lomba Blog Guruku Pahlawanku diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Berkibar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s