mudik

Parenting Indonesia September 2012

Rubrik Cerita Anda

Momen yang Ditunggu

Mudik, bagi perantau seperti saya adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Bukan hanya bagi saya, suami dan anak-anak namun juga bagi orangtua dan keluarga besar di kampung halaman. Tempat tinggal saya yang jauh diseberang membuat saya sekeluarga jarang mudik. Ya, orangtua tinggal di tanah Jawa sementara saya sekeluarga tinggal di tanah Sumatera. Tidak hanya karena jarak yang jauh, besarnya ongkos mudik juga menjadi pertimbangan jarangnya saya dan suami mudik, apalagi saat Lebaran tiba. Disaat oranglain berbondong-bondong menuju terminal, stasiun kereta dan bandara, saya hanya mampu menyaksikan lewat layar televisi. Sedih? Tentu saja, alhamdulilah keluarga di kampung memaklumi kondisi saya dan suami.

Jadilah  kebiasaan mudik dilakukan di luar jadwal libur nasional. Hi..hi..hi..biar ngirit biaya transportasi. Nggak papa kan?

Seperti mudik dua tahun yang lalu. Inilah mudik pertama bagi anak keduaku, Zahira. Saat itu usianya 1,5 tahun. Pengalaman pertama yang amat berat baginya dan juga bagi saya Ibunya. Ini juga perjalanan darat pertama bagi saya sekeluarga. Biasanya perjalanan ditempuh dengan pesawat tapi kali ini untuk berangkatnya naik bus, pulangnya baru naik pesawat.

Perjuangan Sepanjang Jalan

Segala hal yang dibutuhkan untuk perjalanan sudah saya siapkan. Dari perlengkapan  seperti baju, makanan, pampers, dan mainan. Intinya semua logistik yang dibutuhkan selama perjalanan lengkap sudah.

Perjalanan dari Indralaya, Sumatera Selatan menuju Banyumas, Jawa Tengah memakan waktu sehari semalam. Perjalanan yang kemudian terasa amat panjang. Perjalanan diawali dengan menunggu bus di poll. Seperti biasanya, yang namanya menunggu pasti membosankan. Begitupun bagi Zahira, dia mulai terlihat gelisah dan bosan. Berbeda dengan Kakaknya yang tetap ceria, Zahira nampak murung. Meski sudah diajak bernyanyi, bercanda dan bermain, dia nampak tidak seperti biasanya ceria dan ceriwis.

Akhirnya bus yang ditunggu-tunggu datang juga. Saya sekeluarga segera naik mencari tempat duduk. Namun apa yang terjadi, tiba-tiba saja Zahira menangis amat keras. Dia sepertinya ketakutan dan tidak mau naik bus. Dia minta turun, walaupun sudah dibujuk dengan mainan kesukaannya, dia tetap saja menangis. Bahkan dia minta gendong terus meski akhirnya mau diajak duduk, dia tetap ingin dengan kain gendongannya. Dibujuk minum ASI dia juga menolaknya. Dia pun tidak mau digendong ayahnya.

Zahira terus menangis, sampai ada seorang penumpang yang iba melihatnya dan membujuknya dengan makanan, namun hal itu tidak juga membuatnya berhenti menangis. Setelah kecapaian, baru dia mau minum ASI dan akhirnya tertidur.

Lega rasanya melihat dia terlelap. Dalam hati, saya berdoa semoga dia bisa tidur nyenyak. Bayangkan saja dari mulai naik bus pukul 12.00 WIB dia baru berhenti menangis menjelang maghrib. Itupun karena kecapaian, setelah berbagai usaha saya lakukan, bahkan sampai membacakan bermacam doa.

Hati ibu mana yang tidak menangis melihat anaknya dalam kondisi seperti itu. Begitupun dengan saya, namun saya harus kuat demi anak-anak. Beruntung suami sangat mengerti keadaan ini. Suami pun mengurus anak pertama kami dengan baik.

Perjalanan itu belum selesai. Zahira memang tak lagi menangis namun dia sama sekali tidak mau turun dari gendongan. Pegalnya pundak dan punggung saya, jangan ditanya lagi. Walau hanya ditinggal ke toilet sebentar, dia selalu menangis meskipun digendong ayahnya sambil berdiri di depan pintu toilet.

Menjelang subuh bus yang kami tumpangi sampai di Pelabuhan Merak setelah melalui antrian yang panjang. Zahira masih tetap dalam gendongan. Perutnya hanya terisi ASI dari kemarin siang, ini membuat wajahnya terlihat tirus. Sebersit khawatir muncul di hati saya.  Syukurlah akhirnya dia mau makan roti yang sudah dipersiapkan dari rumah walaupun hanya sedikit, selebihnya dia minta minum ASI lagi.

Menjelang Jam 11.00 WIB, bus berhenti di sebuah rumah makan di kawasan Brebes untuk beristirahat. Di sinilah akhirnya Zahira mau turun dari gendongan.  Saya bersihkan badannya dan  saya ganti bajunya agar dia merasa nyaman. Zahira pun mau makan nasi, ini membuat hati saya senang.

Perjalanan pun dilanjutkan, hingga akhirnya sampai di Purwokerto. Dari sini perjalanan masih sekitar satu jam untuk bisa sampai di rumah orangtua saya di Banyumas. Meskipun Zahira tetap minta gendong namun dia sudah tidak menangis, mau makan, dan mulai bisa tersenyum. Dia juga mulai mau diajak bercanda Kakaknya, saya pun bersyukur.

Sesampainya di rumah orangtua saya, semua menyambut gembira sekaligus heran. Mereka tidak menyangka kalau saya sekeluarga akan datang. Saya memang sengaja tidak memberitahukan kedatangan ini, untuk memberi kejutan. Melihat mereka semua bahagia, lupa sudah rasa penat, sakit dan sedih sepanjang perjalanan.

Beda Perlakuan Beda Hasil

Pengalaman yang tidak menyenangkan ini, amat berharga bagi saya. Saya akui, ternyata ada beberapa kebiasaan berbeda saya terapkan bagi kedua anak saya. Anak pertama saya Nisrina sejak dalam kandungan hingga lahir terbiasa naik angkutan umum seperti angkot dan bus. Meski hamil saya sering pergi sendiri naik angkot atau bus. Ini berbeda dengan Zahira, sejak dalam kandungan setiap kali bepergian saya naik motor di bonceng Suami.

Mungkin inilah yang membuat Nisrina lebih terbiasa dengan kodisi dalam bus ataupun angkot. Sedangkan Zahira hanya sekali saya ajak naik angkot ketika masih dalam kandungan. Dan perjalanan mudik itu adalah perjalanan naik bus yang pertamakali. Keterbatasan kondisi ternyata membuat Nisrina lebih kuat dan mudah beradaptasi.

Akhirnya…

Sejak saat itu Zahira lebih sering saya ajak bersosialisasi dan bepergian menggunakan kendaraan umum. Butuh waktu yang tidak singkat untuk membuatnya nyaman di kondisi itu. Namun saya terus berusaha. Dua tahun berlalu, Zahira mulai berubah, dia lebih berani bertemu orang dan pelan – pelan dia juga mulai berani  naik  bus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s