Ngirup Cuko

Pertamakali mendengar kata pempek saya penasaran. Terus terang saja berita kenikmatan pempek membuat saya ingin mencobanya. Namun apa daya berhubung di tempat tinggal saya tidak ada penjual pempek maka keinginan itu sempat terpendam. Setelah merantau, mengikuti suami yang tinggal di Palembang, saya puas bisa makan pempek setiap saat saya mau.

Pempek memiliki ragam yang banyak ada pempek lenjer, pempek kulit, pempek tahu, pempek telur kecil, pempek keriting, pempek kapal selam, pempek adaan dan pempek panggang. Makanan ini terbuat dari sagu dan ikan giling dengan bumbu bawang putih dan garam. Untuk mengenyalkan teksturnya kadang ditambahkan telur

Pempek sudah menjadi makanan utama bagi orang Palembang. Sarapan pempek menjadi kebiasaan yang umum. Bagi kebanyakkan orang Palembang, pagi hari tanpa pempek terasa kurang lengkap.

Makanan khas ini amat mudah didapatkan di sudut-sudut gang, di pinggir jalan, di pedagang keliling dan juga rumah makan khusus pempek. Singkat kata di mana-mana ada pempek. Dari harga yang murah meriah dengan rasa yang cuma-cuma sampai dengan harga yang lebih mahal dengan rasa yang enak tenan.

Istilah cuma-cuma diberikan untuk pempek dengan harga murah karena biasanya terbuat  dari sagu saja alias cuma sagu. Kalau toh pakai ikan, biasanya ikannya cuma sedikit, lebih banyak sagunya. Waktu pertama mencoba pempek-pempek cuma-cuma ini harganya Rp.500,00 per buahnya kalau sekarang Rp.1000,00 per buahnya. Meski begitu penggemar pempek cuma-cuma ini banyak juga. Terbukti ayuk yang suka keliling di lingkungan rumah kami habis terus pempeknya.

Untuk pempek kecil yang terasa ikannya harganya berkisar dari Rp.1800,00 untuk yang belum punya nama. Kalau  di rumah makan khusus pempek harganya sudah diatas Rp.2000,00 per buahnya. Beda lagi untuk pempek kapal selam yang terkenal nikmat dan bergizi, harganya lebih mahal per buah nya sekitar Rp.10.000,00-Rp. 12.000 ,00 karena berisi satu butir telur.

makan pempek yuk!

Sebagai pendatang saya langsung jatuh cinta dengan cita rasa pempek yang gurih dipadu dengan saus gula merah (disebut cuko) yang manis, asam dan pedas. Pempek telah menjadi makanan favorit keluarga saya. Anak-anak saya pun sangat suka pempek. Meskipun masih kecil mereka suka menyantap pempek dengan cuko nya. Setelah itu pasti mereka akan berkeringat kepedasan tapi tetap berlanjut menyantap pempek yang nikmat itu.

Pempek dan cuko memang pasangan sejati. Makan pempek tanpa cuko rasanya tidak lengkap. Cuko memang menjadi elemen penting dalam menyantap pempek. Ini membuat cuko harus terasa nikmat. Cuko yang nikmat adalah yang kental, pedas, asam dan asinnya pas. Jika menyantap pempek tapi cukonya tidak nikmat, biasanya orang akan bilang: “Sayang cukonyo ndak lemak” artinya “Sayang, cukonya tidak enak”.

Cuko terbuat dari gula merah. Gula merah yang berkualitas bagus akan membuat cuko terasa nikmat. Gula merah untuk cuko pempek biasanya adalah gula aren. Gula aren yang bersih dan tidak pahit akan menghasilkan cuko yang nikmat. Biasanya gula aren untuk pempek berbentuk bathok. Gula ini jika dibuat cuko akan menghasilkan cuko yang kental.

Memilih gula bathok untuk cuko pempek juga gampang-gampang susah. Kadang sama-sama berbentuk bathok tapi setelah dibuat cuko ternyata encer dan rasanya tidak nikmat. Lebaran tahun lalu menjadi pengalaman yang mengecewakan. Gula bathok yang saya beli ternyata tidak asli. Sama sekali tidak kental dan rasanya pahit. Setelah pengalaman ini saya jadi lebih hati-hati dalam memilih gula bathok. Saya harus mencicipi rasanya pahit atau tidak. Jika tidak pahit maka gula itu saya beli.

Cuko yang nikmat sering menjadi parameter orang ketika mau beli pempek. Jika cukonya nikmat maka dibelilah pempek itu. Penjual pempek memang banyak di Palembang tapi rasa cukonya berbeda-beda. Ada yang rasa pedasnya menonjol, ada yang rasa asinnya dominan, ada juga yang lebih asam dari cuko di tempat lain. Jadi tinggal pilih sesuai selera.

Hmm, lemak nian

Dulu saya pikir makan pempek dengan kuah cuko selalu pake mangkok yang besar dan sendok seperti makan pempek kapal selam, ternyata tidak. Pempek biasanya dipegang begitu saja di tangan atau bisa juga ditusuk dengan garpu kemudian cuko ditaruh di mangkuk kecil. Pempek digigit sambil cuko nya di minum. Cara menyantap pempek juga sempat membuat saya kagok. Awal-awal dulu sempat takut kesedak karena cuko kan rasanya pedas. Tapi lama-lama biasa juga akhirnya.

Kebiasaan orang Palembang meminum cuko ini disebut ngirup cuko. Pertama saya juga heran mendengar istilahnya. Menghirup kan biasanya pakai hidung ya? Tapi ini pakai mulut. Setelah dipikir–pikir kebiasaan ngirup cuko ini mirip dengan minum kopi ketika masih panas sekali, kemudian dituang di piring kecil lalu diseruput sedikit demi sedikit. Bedanya kalau cuko ditaruh di mabgkok kecil. Ya seperti itulah kira-kira. Terus terang saya kesulitan menemukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia.

Kebiasaan ini sudah mendarah daging. Tidak mantap rasanya mengawali hari tanpa ngirup cuko. Tetangga saya bahkan mengatakan terasa ada yang kurang jika belum ngirup cuko pagi-pagi. Sehingga  muncul istilah “wong plembang dak pacak idup kalu dak ngirup cuko sehari be”. Artinya orang Palembang tidak bisa hidup kalau tidak ngirup cuko sehari saja

Bagi sebagian orang ngirup cuko tidak hanya bisa untuk menyantap pempek saja. Makanan lain seperti pisang goreng, risoles, tape goreng dan jenis goreng-gorengan yang lain juga disantap pakai cuko. Untuk jenis gorengan dengan cita rasa gurih seperti risoles dan martabak lidah saya bisa menerimanya. Tapi untuk gorengan bercitarasa manis seperti pisang goreng dan tape goreng, lidah saya protes, he,he,he.

Saya merasa beruntung pernah tinggal di Palembang dan puas bisa merasakan aneka macam pempek. Ini telah memperkaya kamus kuliner saya. Kebiasaan orang Palembang dalam ngirup cuko juga menambah wawasan saya tentang budaya di luar daerah asal saya. Sebagai orang Indonesia tentu saya bangga dengan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia.

Tulisan ini diikutsetakan dalam event Kompetisi Blog Paling Indonesia yang diberdayakan oleh Komunitas Blogger Makassar bekerjasama dengan Telkomsel area SUMALPUA ( Sulawesi Maluku Papua )

2 thoughts on “Ngirup Cuko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s