Membangun Perpustakaan Warga

“Buku adalah jendela dunia”. Kalimat ini tentu sudah biasa terdengar. Dengan membaca, akan diperoleh pengetahuan. Wawasan dan keterampilan pun akan bertambah. Jika buku adalah jendela dunia, berarti kedudukannya penting dalam hidup. Meski sudah diakui sebagai sumber ilmu, membaca buku bagi masyarakat Indonesia belum menjadi kebutuhan.

Di Eropa, anak-anak telah dikenalkan buku sejak dini. Di sini, hal itu belum menjadi sesuatu yang penting. Anak-anak Indonesia rata-rata mengenal buku ketika mulai bersekolah. Sebelum masa sekolah tiba, mereka belum mengenal buku. Padahal, anak-anak adalah masa yang mudah untuk menanamkan nilai-nilai yang baik, termasuk menanamkan pentingnya membaca buku. Tentu bukan dengan menuntutnya memiliki kemampuan membaca lebih dini, melainkan dengan cara yang sesuai dengan usianya.

Misalnya, dengan membacakan dongeng sejak dalam kandungan dan diteruskan ketika anak lahir, tumbuh, dan berkembang. Orang tua harus mengenalkannya dengan buku-buku sedini mungkin, memprioritaskan untuk membeli buku dibanding jajan. Jika tidak mampu membeli buku, ajaklah anak berkunjung ke perpustakaan lebih dini.

Dengan membangun kebiasaan mengenal dan mencintai buku akan terbawa hingga dewasa. Minat baca masyarakat perlu terus digelorakan karena masih rendah. Menurut data Organisasi Kerja Sama Pembangunan Ekonomi pada tahun 2009, minat baca masyarakat Indonesia di antara 52 negara di Asia Timur terendah. Temuan lain menyebutkan angka buta huruf di Indonesia masih sekitar 34,5%. Indeks membaca juga hanya 0,001. Di antara 1.000 penduduk, hanya satu yang memiliki minat baca baik.

Fakta mengenai rendahnya minat baca juga ditunjukkan di kalangan siswa. Angka minat baca siswa hanya 402, seperti dilansir Programme For International Student Assessment (PISA). Angka ini di bawah Tunisia yang memiliki 404.
Sebuah ironi, ketika meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) gencar dilakukan, upaya untuk menumbuhkan minat baca masih kurang. Tahun 2011 Indeks Pembangunan Manusia Indonesia sebesar 0,617, di peringkat 108 dari 127 negara kategori Medium Human Development.

IPM adalah alat untuk mengukur sebuah negara tergolong berkembang atau terbelakang. Parameter yang digunakan adalah harapan hidup, tingkat baca tulis, pendidikan dan taraf hidup. Itu memperlihatkan kemampuan baca tulis begitu penting dalam meningkatkan IPM karena dijadikan matra.

Kesadaran pentingnya membaca memang masih rendah. Membaca buku wajar dilakukan di sekolah-sekolah. Di luar itu, membaca belum dirasa penting. Masyarakat lebih akrab dengan televisi ketimbang buku. Lihat saja, hampir tiap keluarga memiliki televisi, namun belum tentu mereka memiliki buku-buku bacaan, kecuali pelajaran sekolah. Masyarakat Indonesia lebih banyak membiarkan waktu terbuang. Misalnya, di dalam perjalanan dari rumah ke kantor atau tempat lain sebenarnya peluang untuk membaca, tetapi lebih banyak memainkan telepon genggam atau tidur.

Padahal, kalau melihat masyarakat di luar negeri, seperti Jepang, di kereta atau saat menanti di bandara, mereka selalu membaca. Di dalam tas, senantiasa tersedia buku bacaan. Tetapi, itu belum menjadi kebiasaan di kebanyakan bangsa Indonesia yang biasanya lebih banyak ngobrol untuk menghabiskan waktu luang.

Membaca buku belum menjadi kebiasaan masyarakat. Anak-anak mengenal buku ketika memasuki usia sekolah. Jika bisa dilakukan lebih dini, di keluarga tentu akan dapat menjadi kebiasaan yang baik. Saat ini tersedia banyak buku untuk bayi dan anak-anak. Jika sedari bayi, anak-anak sudah mengenal buku, mereka bisa menyukai ketika sudah mulai bisa membaca.

Akses untuk mendapat buku terbatas. Kemampuan ekonomi menjadi alasan. Ini semestinya bisa disiasati dengan perpustakaan umum agar masyarakat yang tidak mampu membeli buku tetap bisa membaca dengan meminjam.

Ironisnya, perpustakaan umumnya dikunjungi pelajar, sementara masyarakat biasa yang tidak lagi bersekolah belum akrab dengan perpustakaan. Mempertinggi minat baca harus dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat terlebih dulu. Masyarakat harus menyadari bahwa membaca itu penting untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan keterampilan guna menunjang kesejahteraan hidup.

Membangun kesadaran harus diikuti dengan kebiasaan. Itu bisa dilakukan dengan mengenalkan anak-anak kepada buku-buku lebih dulu ketimbang televisi. Jika anak-anak tidak lagi asing dengan buku, akan lebih mudah menyukai.

Iuran

Agar semua masyarakat bisa mengakses buku-buku bacaan yang bermutu, setiap Rukun Tetangga (RT) harus memiliki perpustakaan. RT adalah lingkungan yang tidak terlampau besar sehingga terjangkau dari sisi jarak dan waktu. Tidak perlu tempat khusus, cukup minta kerelaan salah satu warga untuk memberi tempat menyimpan buku-buku agar bisa diakses warga.

Buku-buku bisa diperoleh dengan iuran warga, tidak perlu sampai membebani. Meski sedikit, jika banyak warga berpartisipasi, pasti bisa terkumpul dana untuk membeli buku. Warga yang memang tidak mampu bisa dibebaskan dari iuran. Sebaliknya, warga yang mampu diminta kesadarannya untuk iuran lebih besar, lebih baik lagi rela menyumbang buku.

Administrasi perpustakaan bisa dilakukan dengan memberdayakan Karang Taruna sehingga buku-buku bisa terjaga dengan baik dan awet. Menumbuhkan minat baca agar bisa menjadi kebiasaan memang harus terus diupayakan. Dengan adanya perpustakaan warga, diharapkan mempermudah masyarakat belajar membaca.

Perpustakaan warga juga bisa menjadi pancingan agar tumbuh kesadaran bersama pentingnya membaca. Perpustakaan warga juga cermin budaya gotong-royong dalam upaya meraih kemajuan bersama. Menumbuhkan minat baca memang harus menjadi tanggung jawab setiap anggota masyarakat. Hal ini bisa dimulai dari lingkungan terdekat.

 

2 thoughts on “Membangun Perpustakaan Warga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s