Tumbuhkan Self Esteem Cegah Eksploitasi Seksual Anak (Majalah Potret,Edisi 54 Th.IX)

Eksploitasi Seksual Anak (ESA) merupakan serangkaian kegiatan yang menjadikan anak sebagai komoditas seks. Eksploitasi seksual anak meliputi pelacuran anak, wisata seks anak dan pornografi anak. Mereka dipekerjakan di rumah bordil, panti pijat, karaoke, tempat wisata bahkan yang lebih mencengangkan ada juga di mall. Mall memang merupakan tempat nongkrong yang asyik bagi para anak-anak. Selain itu anak-anak ini juga digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan pornografi seperti gambar-gambar porno.

Data statistik mengenai jumlah anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual yang dirilis Unicef sungguh mencengangkan. Sekitar 40 ribu-70 ribu anak di Indonesia menjadi korban eksploitasi seksual. Mereka berusia di bawah 18 tahun dan tragisnya beberapa diantaranya ada yang berumur 10 tahun. (http://www.unicef.org/indonesia/id/Factsheet_CSEC_trafficking_Indonesia_Bahasa_Indonesia.pdf). Angka yang tidak bisa lagi dianggap remeh. Ini sebuah peringatan yang menuntut perhatian dan kerjasama semua pihak untuk mengatasi masalah ini.

Ketika ESA Berawal dari

Kemiskinan seringkali dituding menjadi salah satu penyebab terjadinya ESA. Anak-anak yang sejatinya menjadi tanggungjawab orangtua justru menjadi penopang hidup keluarga. Sulitnya mendapatkan penghasilan yang cukup dan tekanan hidup yang semakin besar membuat orangtua baik secara sadar maupun tidak mempekerjakan anak-anaknya untuk bisa bertahan hidup. Berlindung dibalik dalih berbakti kepada orangtua membuat mereka mau melakukannya. Namun apa jadinya jika yang mereka lakukan adalah melacur, ini sungguh sebuah ironi.

Bertahan hidup dalam kemiskinan tentu tidak mudah di jaman yang semakin maju. Godaan untuk hidup enak dengan cara instan sudah menjadi menu sehari-hari. Tidak memikirkan resiko yang akan mereka tanggung di masa depan karena yang mereka pikirkan bagaimana untuk bisa hidup hari ini.

Ada fakta yang menyebutkan bahwa ternyata ada faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya ESA antara lain keluarga yang tidak harmonis, perhatian orangtua yang minim terhadap anak dan juga budaya konsumerisme yang merajalela. Fakta ini diungkap ILO (International Labour Organization) dalam sebuah buku berjudul “Ketika Anak Tak Bisa Memilih” Fenomena Anak Yang Dilacurkan di Indonesia ( http://www.gugustugastrafficking.org). Kenyataan ini tentu harus membuat kita semua waspada. Jika memang demikian adanya ESA menjadi ancaman bagi setiap keluarga.

Mencegah dari Rumah

Mencegah memang selalu lebih baik daripada mengobati, begitu juga dengan persoalan ESA. Ini sudah menjadi musuh bersama keluarga Indonesia maka pencegahan terbaik ada di rumah masing-masing. Orangtua sebagai pihak yang berkewajiban melindungi anak-anak harus memiliki kesadaran penuh akan tanggungjawabnya. Setiap orangtua wajib memenuhi apa yang menjadi hak anak, tidak hanya materi namun juga kasih sayang dan perhatian.

Bekerja semaksimal mungkin untuk bisa menafkahi keluarga harus terus diupayakan. Pun ketika dihadapkan pada kondisi anak harus ikut mencari nafkah maka pilihkan anak pekerjaan yang halal dan sesuai dengan kemampuan si anak tersebut. Jangan biarkan anak melacurkan diri.

Untuk keluarga yang miskin tentu butuh perhatian dari pemerintah agar bisa lepas dari belenggu kemiskinan. Tentu bukan dengan memberi ikan namun memberi kail agar keluarga miskin tadi bisa mandiri dan berpenghasilan.

Bagi orangtua yang memiliki nafkah yang berkecukupan bukan berarti bebas dari tanggungjawab lainnya. Menghabiskan banyak waktu untuk mencari nafkah hingga menyabotase jatah waktu dan perhatian untuk keluarga bukanlah tindakan tepat. Anak-anak juga membutuhkan perhatian orangtuanya. Jangan biarkan anak-anak mencari perhatian di luar rumah yang terkadang menyesatkan.

Ketika sebuah keluarga sudah berkecukupan dan harmonis masih harus waspada dengan hantu konsumerisme yang gentayangan setiap waktu melalui media baik cetak, televisi dan internet. Kesanggupan menahan godaan gaya hidup konsumtif mutlak dilakukan. Jika tidak sanggup menahan godaan akibatnya akan terbawa arus. Ketika secara ekonomi tidak bisa lagi memenuhi hasratnya maka jalan pintas mendapatkan uang atau materi bisa saja dilakukan. Seperti yang terjadi pada anak-anak yang menjajakan diri di mall-mall.

Mencegah dengan Self Esteem

Anak-anak harus tumbuh menjadi pribadi yang tangguh agar sanggup menampik godaan sesat, apapun latar belakang keluarganya. Setiap anak harus mampu menghargai apa yang melekat pada dirinya, apa yang dia punya, darimana dia berasal, bagaimana kondisi keluarganya dan lain-lain. Bagaimana cara pandang anak terhadap dirinya menjadi penting dalam membentuk kepribadian yang kuat. Inilah yang disebut sebagai Self Esteem.

Peran orangtua dalam mendidik anak-anaknya agar memiliki kepribadian yang kuat tentu amat penting. Menumbuhkan Self Esteem pada diri setiap anak adalah salah satu caranya. Self Esteem tumbuh sejak usia dini dan terus dipelihara dalam pikiran setiap anak hingga dewasa. Kebiasaan positif, perlakuan yang baik, penerimaan yang baik terhadap anak akan menjadikan anak memiliki self esteem yang sehat. Sebaliknya perlakuan buruk, penerimaan yang tidak memadai dan stigma negatif terhadap anak akan membuat self esteem seorang anak menjadi tidak sehat.

Self Esteem memberi ruang bagi anak untuk bisa memahami dan menerima sesuatu yang terjadi kepadanya. Seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin sekalipun bisa memiliki self esteem yang baik. Bahwa mereka boleh saja miskin harta tapi tidak berarti mereka miskin iman dan ilmu. Bahwa dirinya terlalu berharga dan tidak layak jika harus menjual diri atau diperlakukan buruk oleh oranglain.

Seseorang juga harus memiliki ketahanan mental dan self esteem yang sehat agar mampu menampik ajakan untuk konsumtif. Komunikasi yang baik dalam keluarga menjadi jembatan yang baik agar apa yang dirasakan, dialami dan diinginkan sang anak diketahui oleh orangtua. Jika kondisi harmonis maka anak tidak akan mencari jalan sendiri untuk memuaskan keinginannya apalagi memenuhi gaya hidup konsumtif secara diam-diam. Jika sudah begini acapkali anak memilih jalan pintas karena kelabilan jiwanya. Anak dengan self esteem yang sehat akan mampu memilah mana yang layak untuk dirinya dan mana yang tidak layak. Hal yang akan merendahkan kehormatan dirinya tidak akan menjadi pilihannya.

“Hargai Dirimu Maka Oranglain Akan Menghargaimu”, tanamkanlah kalimat itu dalam jiwa setiap anak kita. Hingga apapun yang dialaminya ia tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa merusak harga dirinya.

Oleh: Ety Abdoel

Penulis adalah Anggota IIDN Interaktif

@etydoc

Tulisan ini dimuat di Majalah Potret Edisi 54 Th.IX.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s