dmuat di majalah lokal

Cintaku Pada ASI

dmuat di majalah lokal
dimuat di majalah lokal

Cintaanku pada ASI telah membuatku membuat blog pribadi khusus tentang ASI dan menyusui. Berbagi pengetahuan tentang ASI menjadi tujuanku. Sekaligus juga untuk sharing pengalaman.

Sebelum melahirkan aku banyak membaca artikel tentang ASI. Dari sinilah aku mendapatkan pengetahuan yang banyak dan menakjubkan. Pengetahuan ini yang telah menuntunku untuk memberikan ASI untuk kedua buah hatiku selama dua tahun penuh.

Kecintaanku pada ASI juga telah menuntunku untuk menulis artikel  berjudul Mendukung Ibu Menyusui Kala Bencana,  dimuat di Majalah Potret Edisi 52 tahun 2011.

Keprihatinanku akan kondisi tempat pengungsian yang seadanya membuatku ingin ikut sumbang saran  dalam menangani pengungsi  dalam hal ini Ibu Menyusui.

Semoga bisa memberi manfaat. Ini artikelnya:

Mendukung Ibu Menyusui Kala Bencana

Oleh: Ety Abdoel

Bencana memang selalu datang tiba-tiba. Tak mengenal tempat dan waktu. Terjadi menurut kehendak Sang Empunya. Bencana juga selalu menimbulkan kerugian baik harta benda maupun korban manusia. Lihat saja dalam setiap bencana baik yang berskala kecil maupun besar. Kerugian menjadi hal yang tak terelakan lagi. Apalagi jika bencana itu sebesar Tsunami Aceh tahun 2004 silam.

Masih lekat dalam ingatan ketika menyaksikan perjuangan perempuan Aceh menyelamatkan diri dari terjangan Tsunami. Mereka berlarian dengan wajah ketakutan, tak jarang harus terjatuh karena keterbatasan fisiknya. Apalagi jika sang perempuan adalah seorang ibu. Dia pasti berlari sambil menggendong atau menuntun anaknya atau keduanya sekaligus. Sungguh pemandangan yang menyayat hati. Itulah naluri seorang Ibu, dia tidak akan meninggalkan anak-anaknya dalam kondisi bahaya seperti itu. Meskipun harus tertatih-tatih menyelamatkan diri.

Kondisi pasca bencana di pengungsian juga tak kalah memprihatinkan. Tempat pengungsian memang selalu seadanya. Kondisi darurat selalu menjadi alasan keterbatasan fasilitas pengungsian. Padahal, telah banyak bencana terjadi seharusnya menjadi pelajaran untuk bisa mempersiapkan tempat pengungsian selayak mungkin. Apalagi bagi perempuan yang memiliki bayi atau Ibu Menyusui, ini harus mendapat perhatian yang serius. Kenapa? Tentu ini menyangkut beratnya beban yang harus ditanggung seorang Ibu Menyusui di pengungsian dan masalah kesehatan bayinya tersebut.

Bencana selalu menyisakan trauma, beban trauma ini juga dirasakan bagi seorang Ibu Menyusui. Padahal kondisi mental akan mempengaruhi produksi ASI ibu yang bersangkutan. Jika Ibu dalam kondisi tertekan maka hormon oksitosin yang mengatur produksi ASI akan turun yang berakibat pada sedikitnya ASI yang diproduksi. Jika ASI yang diproduksi sedikit maka bayi akan kekurangan nutrisi.(Sumber: http://www.ayahbunda.co.id/)

Hal ini berbahaya jika dibiarkan sementara pemberian susu formula saat kondisi bencana justru berbahaya karena bisa menimbulkan persoalan lain seperti diare. Seperti kita ketahui kondisi pasca bencana selalu membuat persediaan air bersih terbatas. Padahal untuk menyajikan susu formula membutuhkan air bersih baik untuk menyeduhnya maupun mensterilkan wadahnya. Dalam kondisi demikian ASI tetap yang terbaik buat bayi.

Unicef dan WHO telah mengingatkan bahaya pemberian susu formula di pengungsian. Apa yang terjadi pasca bencana Gempa di Bantul Yogyakarta hendaklah dijadikan pelajaran. Pemberian susu formula kala itu justru meningkatkan terjadinya diare pada anak dibawah usia dua tahun. Dimana ternyata 25 % dari penderita itu meminum susu formula. Angka ini dua kali lipat dari bayi yang tidak minum susu formula.(Sumber: http://www.unicef.org/indonesia/id/media_12924.html)

Lalu apa yang harus dilakukan agar Ibu Menyusui dapat memberikan ASI yang cukup bagi bayinya? Tentu dibutuhkan dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam Tanggap Darurat Bencana. Pertama, siapapun yang terlibat di pengungsian baik petugas kesehatan, relawan, pemerintah dan pihak-pihak lain harus memahami benar tentang ASI dan pentingnya ASI bagi bayi. Selama ini kurangnya pemahaman terhadap ASI telah menghambat pemberian ASI di pengungsian. Terlebih pada petugas kesehatan hendaknya telah paham lebih dulu dan bisa mengajak pihak lain untuk tetap memberikan ASI saat bencana.

Yang kedua adalah dukungan berupa pendampingan secara psikologis. Diperlukan tenaga-tenaga pendamping yang memiliki kompetensi dalam hal kejiwaan. Ini akan membantu Ibu Menyusui dalam mengelola stress sehingga bisa rileks dan mampu memproduksi ASI yang cukup. Stres pasca trauma yang dialami biasanya berupa panic, cemas, sulit tidur, berkurang atau berhentinya produksi ASI dan lain-lain. Stres Ibu Menyusui harus segera dipulihkan agar kegiatan menyusui bisa terus berlanjut.

Yang ketiga diperlukan relawan ASI, yang mendampingi dan memantau pemberian ASI di pengungsian. Kondisi stress tak jarang membuat produksi ASI sedikit bahkan terhenti sama sekali. Untuk itu diperlukan tindakan Relaktasi yaitu proses menyusui kembali setelah sempat berhenti beberapa waktu. Proses Relaktasi ini sebenarnya hanyalah membiarkan bayi menyusu kembali sesering mungkin. Namun prosesnya sungguh memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Mengapa? Karena prosesnya memerlukan kondisi Ibu yang rileks agar ASI keluar dan membiasakan bayi kembali menghisap puting terkadang memerlukan waktu yang tidak singkat. Jika dalam kondisi normal artinya tidak dalam bencana proses akan lebih mudah. Melihat kondisi pengungsian yang crowded tentu dibutuhkan usaha lebih keras lagi. Disinilah letak pentingnya Relawan ASI yang tidak hanya paham seluk-beluk ASI juga bersedia memberikan seluruh hati, jiwa dan waktunya untuk mendampingi Ibu Menyusui di pengungsian. Sosok Relawan ASI harus tahan akan tekanan dan harus lebih sabar daripada Ibu Menyusui tadi.

Yang Keempat, berikan cairan yang cukup bagi Ibu Menyusui, meski dalam kondisi kekurangan gizi ringan jika tetap cukup cairan maka ASI tetap bisa diproduksi.

Yang Kelima, ini adalah yang paling penting karena memayungi dari keempat langkah lainnya, yaitu adalah manajemen pasca bencana yang padu. Menangani bencana hendaknya jangan dipandang sebagai sesuatu yang musiman. Hanya pikir dan dilakukan kala bencana datang. Sungguh ini sangat terlambat. Selagi bencana belum datang persiapakan dahulu hal-hal yang diperlukan dalam penanganan bencana. Seperti pembekalan pengetahuan penyelamatan diri, pembekalan kesiapan mental dalam menghadapi bencana, pembekalan di pengungsian termasuk tempat, peralatan dan koordinasi jika bencana tiba, dan terkoordinasinya bantuan dalam satu pintu sehingga memudahkan dan transparan.

Ini memang bukan pekerjaan sehari dua hari namun kerja panjang yang menuntut perubahan pola pikir dan sikap dalam menghadapi bencana. Tinggal di wilayah yang ditakdirkan berpotensi bencana hendaknya membuat seluruh komponen bangsa ini sadar. Bersiap menghadapi bencana bukanlah mengharap bencana itu datang. Bersiap dengan baik dapat mengurangi dampak suatu bencana. Dampak yang akan dirasakan Ibu Menyusui dan bayinya. Maka dari itu, demi masa depan bayi-bayi yang akan menjadi penerus bangsa ini, Mari Kita Dukung Ibu Menyusui untuk tetap menunaikan tugasnya meski terjadi bencana.

Selamat Hari Ibu

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s